Minggu, 15 Juni 2014

Arti Sebuah Kebahagiaan



             Malam itu hujan mengguyur kota Bandung dengan begitu derasnya. Dengan sangat cepat Rangga mengendarai motor jadulnya dengan sangat cepat agar cepat sampai ke rumah. Memang, hari itu Rangga mempunyai jadwal kerja yang padat. Meskipun dia hanya bekerja sebagai penjaga toko kue, tetapi dia menekuninya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan uang sekedar untuk memenuhi kebutuhannya yang juga sebagai seorang mahasiswa yang sebentar lagi dia hampir menyelesaikan kuliahnya dengan gelar sarjana.
Dia tinggal hanya berdua dengan ibunya karena ayahnya telah meninggal sejak rangga masih kecil karena penyakit jantung. Rangga adalah anak sematawayang dan menjadi kesayangan ibunya karena tidak ada lagi yang ibunya miliki selain rangga.
Pagi hari, dia harus pergi kuliah seperti seharusnya. Dengan tergesa-gesa dia lekas mengenakan sepatu yang tersimpan rapi di rak sepatu.
“Rangga,, kok buru-buru banget udah sarapan belum?” terdengar suara ibunya membuyarkan pikirannya.
“Iya nih bu hari ini ada tugas mata kuliah yang belum terselesaikan dan harus dikumpulkan hari ini juga bu” balas rangga.
“Tapi apa gak sebaiknya makan dulu. Ibu sudah menyiapkan nasi goreng kesukaan kamu tuh”.
“Mungkin dibekal sajalah bu soalnya sudah telat nih” Jawab rangga sambil menghidupkan motornya.
“Yasudah kalau begitu hati-hati ya dijalan”
“Beres bu” jawab Rangga singkat.
Jam ditangan rangga sudah menunjukan pukul 07.20. Dengan kepecatan kilat dia mengendarai motor jadulnya  yang selalu menemaninya untuk melakukan semua aktivitasnya sehari-hari. Sesampainya di tempat kuliahnya dia berlari menuju kelasnya untuk mengikuti pelajaran. Dengan nafas yang masih terengah-engah dia memasuki kelasnya.
“Rangga,, kamu baru datang? Naik apa?” tanya salah satu temannya.
“Iya nih biasa naik motor  keramat.. hehe” candanya.
“Yasudah cepat rapihkan pakaianmu pak Joni dosen kita sudah mau datang tuh” temannya mengingatkan.
“Baiklah” jawabnya singkat.
Waktunya pulangpun tiba. Semua mahasiswa berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Terdengar suara perempuan yang memanggil dari balik tubuhnya. Diapun menoleh dan yang dia temui adalah Rini yang tak lain adalah adik kelasnya yang sangat dekat dengannya.
“Rangga Mau kemana?” tanyanya yang membuat langkahnya terhenti seketika.
“Biasalah sudah kuliah kan saya harus menjaga toko” jawabnya.
“Ohh.. tapi kan masih jam 12 nih. Masuk kerja kan jam 2” sambil melihat jam ditangannya.
“Mau sekalian beli makanan dulu nih buat ibu”.
“Ohh.. rangga besok ada acara gak?”
“Memangnya ada apa?” tanya rangga dengan heran.
“Rini ingin ditemani beli hadiah nih buat ulang tahun ayah”
“Ohh oke kalo gitu besok saya jemput ”
“Makasih ya rangga” dia tersenyum manis.
“Iya sama-sama rin” membalas senyuman Rini.
Lalu Rini pun berlalu dengan meninggalkan senyuman manis di bibirnya. Rangga pun membalas senyumannya. Memang, Rini itu cantik dan dia juga dikenal baik oleh teman-temannya. Rangga merasa bersyukur ada orang secantik dan sebaik Rini yang mau dekat dengannya.
Keesokan harinya Rangga pun bergegas untuk menjemput Rini dirumahnya. Dia meluncur dengan motor kesayangannya.
“Assalamualaikum” ucap rangga.
“Waalaikumussalam ehh nak rangga mau ke rini ya?” tanya ibunya seakan sudah tau apa tujuan rangga.
“Iya bu, Rininya ada gak?”
“Ada sebentar ibu panggilkan ya. nak rangga duduk saja dulu”
Selang beberapa lama berdirilah perempuan yang sangat cantik membuat rangga hanya bisa duduk termangu dengan kecantikan wajahnya.
“Maaf ya sudah menunggu lama” ucap perempuan yang berdiri didepannya.
“Iya gak apa-apa ko nyantai aja rin. Kamu sudah siap?”
“Sudah kok ayo berangkat. Tapi tunggu sebentar ya rini mau ijin dulu sama ibu” Rini pun berbalik dan lekas menghampiri ibunya yang sedang berada didapur.
Suasana kota Bandung pagi itu nampaknya sangat cerah. Kendaraan pun sedikit demi sedikit sudah mulai memadati kota Bandung. Dengan bertiupkan angin Rangga dan Rini melewati ramainya jalan soekarno-hatta.
“Rin kita mau kemana nih?” tanyanya sambil mata terus melihat kearah jalan.
“Eummhh.. kita ke Bandung Indah Plaza saja ya” kepalanya mendongak sambil berusaha melihat wajah Rangga.
“Ohh yasudah iya deh” jawabnya singkat.
Setelah sampai di tempat tujuan mereka langsung berjalan menyusuri padatnya orang yang berlalu lalang di dalam mall yang terletak di pusat kota Bandung itu.
“Rangga.. kita keliling-keliling dulu yuk kesebelah sana” ajak Rini dengan penuh semangat.
Rangga pun hanya mengangguk dan tersenyum. Hanya perempuan ini yang dapat menggerakan hati rangga dan membuat rangga selalu bahagia bila bersamanya.
Setelah sekian lama mereka berkeliling dan menjelajahi seluruh sudut mall tersebut akhirnya mereka pun mendapatkan barang yang mereka cari.
“Rin capek nih, gimana kalau kita makan dulu, ya sekalian istirahat kamu juga pasti capek kan”
“Hayoo.. Rini juga sudak capek nih. Kita makannya di rumah makan milik pamanku saja ya. Dijamin enak ko makanannya” Rini tersenyum.
“Oke boss” canda Rangga sambil mengedipkan mata dan membalas senyuman Rini.
Jam sudah menunjukan pukul 13.00 saatnya untuk mereka pulang. Rangga juga harus pergi ke toko karena sejam lagi adalah waktu kerjanya.
“Pulangnya kita mampir dulu ke toko Rangga dulu ya Rin” ajak Rangga.
“Iya deh” mengangguk tanda setuju.
“Oke kita berangkat ke toko sekarang” Rangga pun melesatkan motor jadulnya ditengah jalanan kota Bandung yang lumayan kosong.
“Nih Rin” sambil menyerahkan bungkusan kepada Rini.
“Apa ini ngga?” sambil terheran melihat rangga memberikan bungkusan itu.
“Ini untuk ayahmu. Mungkin gak seberapa tapi semoga ayah kamu senang menerimanya” tersenyum sambil terus menatap rini.
“Aduhh makasih banyak rangga kamu baik banget” membalas senyuman Rangga.
“Iya sama-sama. Sampaikan saja ucapan selamat ulang tahun dari Rangga untuk ayah kamu ya”
“Ia Rangga, pasti disampaikan kok”
“Ayo sekarang Rangga anter kamu pulang”.
              Di suasana hening malam yang dingin dengan ditemani bintang di langit yang berkilauan membuat hati siapa saja yang melihatnya merasakan ketenangan. Rangga duduk dengan beribu pikiran yang menerpa kehidupannya. Sesungguhnya ada sesuatu dibenaknya tentang perasaan yang ada di hatinya. Perempuan itu, tapi ahh dia mulai melawan semua pikiran yang menimpanya itu. Dia ingin fokus dulu terhadap kuliah dan pekerjaannya.
             Tiittt..beltandaadapengunjungtoko pun berbunyi. Denganbegitusigapnyaranggatelah standby di kasirdanmenjamupelanggannyatersebut.
“Selamatsiang, silahkanbolehdilihat-lihatdulukuenyapak.” SapaRanggakepadapembelitersebut.
“Mas disinibisadipesantidakkuenya.Soalnyaminggudepananaksayaakanmenikah, jadisayainginmemberikankuepernikahan yang sangatistimewauntukharipernikahannya. Bisatidak mas?” Tanya pembeliitumengemukakanmaksudkedatangannya.
“Ohhboleh-boleh.Disinijugaselainmenjualkue yang sudahjadibisajugadipesansesuaikeinginankonsumenpak.Bapaktinggalbilangsajainginkue yang sepertiapadenganbentukdanvariasi rasa didalamnya. Bapakbisaberbicaralangsungdenganbagianpemasaran” sambilmenunjuksalahsatukaryawan lain yang berada di sebelahderetankue yang terpajang di bagiandepantokoitu.
“Makasihya mas”
“iyasama-samapak”
Pembeliituberlalumenghampirikaryawan yang telahditunjukanranggatadi.Dialaluberbincang-bincangdengankaryawantersebut.
             Setiap hari Rangga bekerja dengan tekun dan tidak pernah mengeluh. Karena dia yakin suatu saat nanti akan ada kesenangan setelah ada kepayahan. Karena ada peribahasa arab yang berbunyi ‘tidak akan ada kesenangan sebelum adanya kepayahan’. Kata-kata itu yang selalu menguatkan keyakinannya dalam menghadapi segala permasalahan dalam kehidupan.
             Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahunpun mengakhiri semuanya itu. Rangga pun telah menyelesaikan kuliahnya dengan gelar sarjana dan pekerjaannya pun sudah mulai berkembang. Karena ketekunan dan kegigihannya selama ini menghalau semua rintangan yang menghalangi kehidupannya. Sekarang dia bekerja sebagai sekretaris pribadi di sebuah perusahaan yang bisa dibilang cukup besar.Rini yang selama ini dekat dengannya sekarang telah menjadi istrinya yang akan menemaninya sampai mati. Dia hidup bahagia dengan dikaruniai dua orang anak yang lucu-lucu dan baik.
             Kesusahan yang dulu dia alami telah terbayar dengan sebuah kesenangan dan keberhasilannya seperti yang dia rasakan sekarang ini. Semoga ini dapat membuka mata setiap orang bahwa kebahagiaan itu tidak didapat secara gratis dan harus diusahakan dengan penuh godaan dan pengorbanan yang tidak sedikit.